Dalam dua tulisan saya sebelumnya, kita telah membahas logoterapi dari perspektif Naruto dan Sasuke. Kali ini sebenarnya saya ingin mengajak pembaca melihat dari perspektif Haruno Sakura, namun perspektif ini akan mewakili banyak karakter di dunia manga. Tak mengapa, mari kita jadikan Sakura sebagai titik mulai. Let’s go!
Setiap kita menyadari bahwa segala kejadian dalam hidup, ada yang berada di dalam kendali kita dan ada yang bukan. Bagi penganut Kreasonisme, mereka meyakini bahwa dunia ini berjalan mengikuti skenario Yang Maha Kuasa. Dalam segala skenario itu, tentu saja ada momen yang tidak diharapkan yang menimpa kita. Kadang manis, kadang pahit seperti harapan dan realita.
Di sinilah muncul kebiasaan kita, yang selalu menghendaki segala sesuatu itu berjalan sesuai kehendak kita. Manakala yang tidak diharapkan itu menghampiri, kita mencelanya tanpa memahami setiap nilai yang terkandung di dalamnya.
Dalam serial Naruto, saat Sasuke memutuskan untuk meninggalkan desa Konoha, semua temannya berharap untuk membawanya kembali. Maka terbentuklah tim pengejar Sasuke yang tak lain adalah temannya sendiri. Sesaat sebelum tim ini berangkat, Sakura memohon kepada Naruto sembari menangis agar membawa Sasuke kembali.
Ketika momen pertarungan datang, memang Naruto dan Sasuke selalu terdepan. Momen-momen ini menjadi sorotan bagi sebagian penonton karena Sakura dianggap tidak berguna dan hanya bisa meminta, menjerit dan tidak berkontribusi apapun.
Tapi kita pun lupa memahami, bahwa Naruto itu sering ceroboh dan tidak memikirkan setiap langkahnya. Sekaligus Sasuke karena dia secara kekuatan memang lebih kuat. Kita melewatkan nilai kehati-hatian dan kejelian Sakura di sini.
Momen-momen tersebut menjadi sorotan karena bertentangan dengan keinginan alur ideal penonton. Sebagian menganggap bahwa Sakura semestinya bisa berbuat lebih, terutama karena sesama anggota Tim 7.
Kita lupa memahami nilai positif dari hal tersebut dan lebih memilih untuk melihat sisi negatifnya. Seketika kita gagal untuk memahami makna dari kondisi tersebut karena terhalang selubung makna.
Sakura memang lebih lemah dibanding Naruto dan Sasuke. Dan dia sadar akan hal itu sehingga memicunya untuk berlatih agar tidak ketergantungan kepada mereka berdua. Mayoritas dari kita lebih melihat betapa lemahnya Sakura dibanding memperhatikan usahanya menjadi ninja yang lebih kuat.
Bukankah kita menemukan di sekitar kita, orang yang memiliki kekurangan tapi bukannya memahami kekurangannya tapi malah menyerah dan mulai menghancurkan dirinya sendiri?
Meski begitu, tetap saja batin sebagian kita berteriak meronta-ronta “Ah, dia tidak bisa apa-apa. Dia paling lemah, dan hanya di-carry oleh teman setimnya!” Dan masih banyak alasan lainnya. Loh, masih denial ternyata….
Kenyataan adanya label karakter beban dalam dunia anime ini menunjukkan sisi penolakan dari diri kita saat dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Ketika menghadapi situasi yang menurut kita negative, pandangan kita malah sudah tersempitkan dahulu oleh emosi sehingga orientasi hidup kita tersesatkan oleh selubung makna tersebut.
Frankl juga telah menegaskan bahwa selubung makna ini sangat berbahaya jika orang yang tersesat di dalamnya tidak mendapat figure yang tepat (seperti halnya Sasuke). Lihat saja, karena tidak ada ayang, eh figure yang cocok maksudnya, Bang Toyyib malah menjadi buronan rezim internasional.
Di sisi lain, fenomena karakter beban ini merupakan bukti bahwa masih banyak dari kita yang gagal paham terkait kejadian yang menimpanya atau orang yang berinteraksi dengannya. Gagal paham ini merupakan asal mula dari label tidak bermakna, tidak berguna, tidak bermanfaat, beban keluarga, beban masyarakat dan lain- lain.
Bukankah ada orang yang karena beberapa kejadian “negatif” menimpanya, lantas mengatakan seluruh hidupnya tidak bermakna? Bahkan sangat mungkin permasalahan ketidakbermaknaan ini menjadi akar penyakit mental bagi pribadi kita.
Sakura sekalipun ketika menyadari kekurangannya, dia langsung menambalnya dengan latihan keras. Hingga akhirnya dia menjadi salah satu ninja wanita terkuat Konoha. Menggantikan peran sentral Tsunade dalam dunia medis. Maka, apa jadinya Sakura saat menyadari dia itu masih lemah tapi Sakura malah insecure, depresi hingga mengatakan hidupnya tidak bermakna sehingga berencana mengakhiri hidupnya?
Setiap mangaka termasuk Masashi Kishimoto, pasti memiliki tujuan dan pesan yang disisipkan dalam setiap karyanya. Pesan itu ibarat lukisan Michelangelo yang indah, namun hanya karena ada beberapa kerumitan di dalamnya dan tidak sesuai dengan selera kita, serta merta kita mencap lukisan itu jelek. Jelas hal ini disebabkan karena belum terbukanya sudut pandang kita untuk memahami lukisan pesan tersebut.
Frankl mengingatkan kita bahwa segala sesuatunya memiliki makna termasuk kita sendiri. Bahkan seorang Frankl yang pernah menjadi tahanan kamp konsentrasi Nazi pun menganggap masa penahanannya bermakna. Begitu pula kehidupan kita.
Tiada setitik fragmen dalam hidup kita yang menjadi beban bagi kita. Semuanya menjadi ringan, bermakna, bahkan bermanfaat tatkala kita memahami pesan indah yang disisipkan dalamnya oleh Sang Mangaka Yang Maha Agung.
Tulisan ini meski mengambil contoh Sakura, tetapi didedikasikan demi setiap karakter manga/anime yang mendapat label beban. Semoga mudah dipahami oleh para pembaca.
Penulis: Gariza Ahmad Robbani
Adalah mahasiswa Konoha di Universitas Beika. Pendengar setia ceramah mingguan Kades KH Uzumaki Naruto, SH.MH. Penggemar Prof. Dr. Kudo Shinichi, Ph. D. meski kadang gak mudeng sama analisisnya. Bisa disapa lewat akun Instagram @officialahmadgar.