One Piece Arc Wano: Jeratan Tertinggi Kapitalisme di Era Bajak Laut Beast

Sudah hampir 4 tahun lamanya arc Wano masih berlangsung di dalam cetia serial manga One Piece. Banyak sekali hal yang menarik pada arc ini. Tapi memang pembebasan sebuah negeri sudah menjadi khas tersendiri di dalam serial buatan Oda-sensei. Wano bukanlah satu-satunya arc yang memperlihatkan praktik-praktik kolonialisme.

Sebelumnya ada beberapa arc yang juga menunjukan praktik tersebut seperti pada arc Drum Island, arc Alabasta, arc Dressrosa dan masih banyak lagi.

Wano menjadi arc yang menggambarkan imperialisme pada era industri. Substansi yang di perlihatkan di arc ini adalah bagaimana kapitalisme dalam bentuk industri manufaktur yang menghisap habis sumber daya sekitar dan mencemarkan lingkungan. Lalu hasilnya hanya dinikmati oleh beberapa golongan masyarakat.

Negara ini sangat kaya akan sumber daya, dulunya disebut “Negara Emas” dan terus-menerus diincar oleh orang luar seperti bajak laut dan negara asing. Setelah Bajak Laut Beast menguasai Wano, hampir semua sumber dayanya telah difokuskan pada pembuatan senjata.

Penghisapan sumber daya alam berskala masif yang dilakukan oleh Kaido dan kru berdampak sangat buruk bagi masyarakat Wano yang terdegradasi oleh sistem sosial bentukan rezim Orochi ini. Orang-orang yang bermukim di kota Ebisu, kota Okobore dan desa Amigasa menjadi korban dari keserakahan Kaido dan Orochi.

Mereka kehabisan sumber daya primer untuk bertahan hidup, seperti sumber daya pangan yang dihisap habis oleh penguasa yang bahkan membuat mereka kesulitan untuk bertahan hidup. Luffy yang memiliki logika sederhana tentang survival saja sampai dibuat bingung oleh fenomena Wano ini.

Menurutnya selama masih ada hutan dan lautan, mendapatkan makanan bukanlah hal yang sulit, tapi mungkin saat pertama kali tiba di Wano, Luffy masih belum mengenal tentang sistem polarisasi sumber daya yang dilakukan oleh bajak laut Beast.

Lalu air di desa Amigasa yang tercemar oleh limbah pabrik senjata juga menjadi salah satu imbas dari keserakahan rezim Shogun Orochi dan bajak laut Beast. Kaido mengadakan perjanjian transaksi jual beli senjata dengan World Government, padahal mereka adalah 2 entitas yang saling berlawan.

Akan tetapi dalam hal ini mereka sama-sama menjalankan prinsip pragmatisme. Memang di dalam ekosistem kapitalisme, pragmatisme adalah ujung tombak untuk membuahkan akumulasi, tanpa adanya negosiasi, dan tanpa mengedepankan ego maka akumulasi pun tidak akan terjadi.

Hasil dari penjualan senjata hanya dinikmati oleh segelintir orang, padahal kita tahu sumber daya untuk menjalankan bisnis itu datangnya dari mana, akan tetapi hasilnya lari ke mana, lalu dampaknya berimbas ke siapa, itu yang menjadi sorotan di dalam persoalan ini.

Kita bisa berkaca kepada perkataan Vladimir Lenin pada tahun 1917, menurutnya Imperialisme adalah tahap tertinggi dari kapitalisme. Maka sangat tergambar jelas pada arc ini bahwa kolonialisasi Wano adalah bentuk tahap tertinggi dari jeratan kapitalisme bajak laut Beast.

Penulis: Irland Hadyan