Sebuah kisah fiksi biasanya dirancang dengan kandungan berupa pesan kepada para penikmatnya. Sayangnya, banyak orang yang belum menyadari adanya pesan emas dari kisah yang mereka nikmati.
Nyatanya, salah satu animanga bergenre gelut-gelut dan gore yang cukup populer di kalangan para penikmat berjudul Tokyo Ghoul, ternyata memberikan gambaran secara tak langsung kepada para penontonnya tentang gangguan mental yang selama ini diidap sang tokoh utama, Kaneki Ken.
Tokyo Ghoul sendiri mengisahkan pertempuran dua kubu, yaitu para ghoul dengan kelompok manusia yang disebut sebagai para Penyidik dalam organisasi CCG. Sederhananya, Penyidik adalah semacam lembaga militer atau kepolisian yang bertugas khusus untuk menangkap, mengadili, dan melawan para ghoul.
Apakah Tokyo Ghoul hanya tentang kisah pertarungan ghoul menghadapi manusia? Lebih dari itu, Tokyo Ghoul bisa jadi menginterpretasikan isu rasisme dan kesenjangan sosial yang ada di dunia ini. Hal ini dikarenakan para ghoul selalu disiksa, diburu, dibunuh, dan ditindas.
Para ghoul pun memberikan reaksi untuk menaikkan derajat sosial mereka. Terlepas dari kelakuan beberapa oknum ghoul yang menyimpang, bukan berarti semuanya berkelakuan buruk. Besar kemungkinan mereka memberikan reaksi karena selama ini mereka tak mendapatkan berbagai hak dan hal yang seharusnya mereka miliki.
Selain terdapat isu-isu sosial, dalam Tokyo Ghoul ada pula isu gangguan mental yang disampaikan melalui beberapa tokohnya. Kaneki adalah seorang remaja lugu dan polos pada awalnya. Ia berubah menjadi setengah ghoul setelah ia berkenalan dengan seorang pustakawan bernama Rize. Mereka bertemu di sebuah kedai kopi bernama Anteiku.
Singkat cerita, terjadilah sebuah sebuah insiden pasca pertemuan mereka yang membuatnya berubah menjadi manusia setengah ghoul dengan dilakukannya transplantasi organ Rize ke dalam tubuh Kaneki oleh seorang dokter sedeng. Setelah kejadian itu, psikologisnya dan pemikirannya seakan terpecah terbagi menjadi dua, yaitu sisi manusia dan sisi ghoulnya yang kerap dipengaruhi sosok Rize dalam dirinya.
Sosok Rize dalam diri Kaneki muncul setelah ia menjadi ghoul. Itu menandakan bahwa munculnya kepribadian Rize dalam diri Kaneki bukan semata-mata karena transplantasi organ saja, tetapi juga karena Kaneki yang mengalami trauma mendalam pasca kejadian itu.
Teori ini diyakini oleh para pakar sebagai penyebab utama seseorang bisa memiliki kepribadian ganda. Selain Tokyo Ghoul, juga pernah digambarkan dalam film seperti Split dan Glass, di mana seorang tokoh memiliki lebih dari satu kepribadian untuk melepaskan dirinya dari trauma di masa lalu.
Semakin ia menolak kepribadian barunya, nampaknya membuat Kaneki makin tertekan dan tak mengetahui apapun. la bahkan tak tahu jika kepribadian barunya bisa menuntunnya kepada kekuatan mahadahsyat yang tak bisa ia kendalikan.
Hal ini terlihat jelas saat ia pertama kali menggunakan kekuatan ghoul-nya dan mengeluarkan Kagune miliknya untuk bertarung dengan seorang penyidik tampan nan kekar, idaman mbak-mbak pecinta mas-mas berseragam. Kaneki yang benar-benar clueless mengenai kekuatan yang dimilikinya dan masih memiliki kesadaran sebagai seorang manusia justru menyuruhnya pergi ketimbang membunuhnya.
Bagaimana perasaan seseorang yang terpaksa memiliki dua wajah untuk ditampakkan dan dua mata yang berbeda untuk memandang dunia ini? Pasti sangatlah tersiksa. Sebenarnya posisi Kaneki yang berdiri pada dua sisi dan bisa dibilang “setengah-setengah❞ ini membuatnya spesial. Akan tetapi, kondisinya yang “setengah-setengah❞ atau bisa dimaknai sebagai “berkebutuhan mental” ini pun juga dimanfaatkan oleh orang lain yang tak bertanggung jawab.
Bagi yang sudah menyaksikan animenya, pasti tak asing dengan tokoh bernama Tsukiyama dan Jason/Yakumo. Kedua karakter itu adalah contoh orang yang memanfaatkan kondisi spesial Kaneki untuk kepentingan pribadi mereka. Dalam kehidupan nyata, keduanya bisa dimaknai sebagai seorang perundung yang akan menyebabkan makin rusaknya kondisi mental seseorang dengan menambah masalah dan memperdalam trauma mereka.
Dengan sisi manusia dan kerendahan hatinya, bahkan ia sempat mengutarakan perspektifnya mengenai ghoul yang tidak semuanya berkelakuan buruk, serta para manusia yang juga ikut andil dalam kehancuran dunia. Sama seperti kehidupan di dunia sesungguhnya, terkadang manusia, baik secara keseluruhan maupun individu seringkali terlalu fokus dengan kebajikan yang telah mereka perbuat.
Hal itu kerap menimbulakan ketidaksadaran bahwa mereka telah menimbulkan kehancuran dan kesengsaraan, baik dalam lingkup dunia, lingkungan sekitar, atau bahkan sekadar untuk orang lain.
Rize sendiri selalu menekankan pada Kaneki bahwa sebaik apapun dirinya, pada akhirnya semua manusia adalah jahat. Manusia adalah individu jahat, manusia adalah spesies makhluk hidup jahat.
Pada akhirnya, Kaneki terpaksa menghadapi pergolakan batinnya sendirian. Masalah mental yang ia alami sejak ditinggal mati Sang Ibu, dirinya yang selalu merasa lemah dan tidak berguna, serta kekejaman dari seluruh dunia yang ia rasakan dengan dua perspektif murni membunuh kesehatan mentalnya perlahan.
Meskipun hanya sebatas fiksi, tetapi orang-orang seperti Kaneki dengan berbagai masalah dalam hidup dan gangguan mental tentu nyata adanya dan perlu kita rangkul. Kaneki menunjukkan bahwa hal paling menyiksa dalam menghadapi permasalahannya ternyata juga merupakan hal paling sederhana untuk mengatasinya, yaitu dengan menerima keadaan.
Sayangnya, tak semua orang cukup tegar untuk melakukannya. Bahkan, dengan Kaneki menunjukkan, dengan berbagai kondisinya, dia bisa merubah keadaan dunia pada musim-musim selanjutnya dari anime ini.
Hal ini menegaskan pula bahwa gangguan mental dan permasalahan hidup bukanlah akhir dari segalanya. Kita juga bisa melakukan yang terbaik dan berperan bagi sekitar, meskipun banyak perjuangan dan derita yang harus dilewati guna mencapainya.
Kaneki memang digambarkan sebagai sosok fiktif yang unik. Dengan kedua perspektif dari dua kepribadian yang ia miliki, ia bebas merasakan semua kecewa dan pilu yang tersedia di seluruh penjuru bentala. Seperti kisah Kaneki, para penikmat Tokyo Ghoul pun bebas merasakan kecewa. Maka dari itu, saya sarankan untuk tidak menonton musim ketiga dan keempat dari serial anime ini, meskipun kisah problematika seorang Kaneki masih dilanjutkan, bahkan dalam perspektif berbeda yang cukup “menggamparkan”.
Penulis: Muhammad Fachri Akmal Pasha
Muhammad Fachri Akmal Pasha, wujud nyata mahasiswa nganggur. Bisa dihubungi melalui Instagram @akmalpasha_