Filsafat Skeptisisme Pain Nagato terhadap Dunia dan Upayanya untuk Mewujudkan Perdamaian

Skeptisisme merupakan gerakan filosofis yang menganut paham bahwa suatu hal yang ada di dunia ini selalu tidak pasti dan manusia seharusnya meragukan apa yang telah diwariskan kepada umat manusia oleh manusia sebelumnya, yang sering kali melahirkan ketidakadilan. Penderitaan dan pengalaman yang menyakitkan biasanya membentuk seseorang untuk bersifat skeptis dan sinis.

Persoalan besar umat manusia, yakni ketidakadilan yang disebabkan oleh dituntutnya manusia untuk bertindak sedemikian rupa, sehingga kelompok yang tidak menyetujui tindakan tersebut merasa tersakiti dan menciptakan sebuah rasa kebencian dari tindakan yang telah dianut atau dipercayai oleh banyak orang.

Sering kali apa yang telah dianut dan dipercayai oleh banyak orang di dalamnya terdapat ketidakadilan. Oleh karenanya, paham ini mencoba untuk melepaskan diri dari ajaran dogmatisasi yang telah dilahirkan di muka bumi ini dan dipelihara secara turun temurun oleh banyak orang.

Dalam serial anime Naruto, terdapat seorang tokoh yang mendirikan suatu organisasi untuk mengakhiri kebencian akibat ketidakadilan yang telah diwariskan kepada umat manusia. Nagato dengan enam tubuh Pain merupakan owner dari organisasi Akatsuki yang mempunyai tujuan untuk mengakhiri perang dengan mengumpulkan jinchuriki agar tercipta suatu kekuatan yang ditakuti oleh semua orang, sehingga semua orang bisa hidup damai.

Nagato dengan sifat skeptisnya memandang bahwa dunia yang terkutuk ini telah banyak melahirkan rasa sakit dan kebencian terhadap sesama manusia, bahkan sebagian anak yang terlahir ke muka bumi ini tanpa adanya rasa bersalah, akan tumbuh dalam menghadapi rasa sakit, hingga keyakinannya menyamai skeptisnya.

Menurut Nagato, semua manusia itu mempunyai nasib yang sama, agama dan negara tidak peduli betapa menyedihkannya mereka, yang pasti akan melahirkan sebuah peperangan. Kuasa manusia yang hanya selalu mementingkan dirinya memasukkan mereka ke lubang egosentris, sehingga egosentris yang berkumpul pada kelompok agama dan negara melahirkan kebencian yang lebih luas bagi manusia.

Namun, dalam upaya memenangkan kompetisi untuk tujuan hidupnya, terkadang seseorang atau kelompok dalam agama dan negara melakukan praktik jalan pintasnya melalui peperangan untuk lebih cepat menguasai sumber pemenuhan kehidupan. Dalam hal ini, individu atau kelompok yang tidak mempunyai kekuatan lebih atau kekuasaan yang besar akan merasakan akibat dari peperangan dan memberikan bekas rasa sakit. Namun, skeptisisme Nagato memandang rasa sakit adalah cara di mana seseorang membawa kedamaian, karena kedamaian menurutnya tidak bisa dirasakan dengan rasa saling mengerti.

Kemudian, Nagato menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mengenal apa itu rasa sakit, maka ia tidak akan pernah mengetahui kedamaian sejati. Bahkan Nagato menyarankan kita untuk merasakan rasa sakit dan berpikir tentang rasa sakit, sehingga kita dapat merasakan rasa sakit dan mengetahui apa yang disebut dengan rasa sakit.

Untuk membalas rasa sakit itu, manusia seharusnya tidak berpikiran untuk balas dendam. Karena jika balas dendam itu merupakan bentuk dari keadilan, maka keadilan dengan balas dendam hanya akan menimbulkan rantai kebencian dan peperangan tanpa akhir, sehingga kedamaian tidak akan pernah dapat terwujud dalam umat manusia. Kedamaian dengan cara balas dendam agar terwujudnya keadilan membawa rasa sakit baru kepada orang lain dan balas dendam baru pada orang yang merasakan rasa sakit baru.

Nagato menyadari bahwa terdapat hal-hal yang dapat dirinya lakukan, di mana manusia lain tidak dapat melakukannya, yakni mengubah dunia dengan rasa takut. Nagato yang diberkati mata Rinnegan yang menjadi mata paling kuat, mulai berpikir bahwa rasa sakit yang diakibatkan oleh egosentris yang diciptakan manusia di dunia membuat dirinya semakin kuat dan berkembang.

Hal ini sejalan dengan rasa skeptisnya bahwa terkadang manusia perlu terluka untuk memahami sesuatu, perlu jatuh untuk tumbuh, dan perlu kalah untuk mendapatkan pelajaran terbesar dalam hidup melalui rasa sakit.

Melalui kekuatannya, Nagato ingin ingin menciptakan perdamaian, sehingga ia bisa membawa keadilan di dunia. Namun, keadilan tanpa adanya kekuatan adalah suatu kehampaan, sebaliknya kekuatan tanpa adanya keadilan hanya akan membentuk kekerasan. Oleh karena itu, melalui pengumpulan jinchuriki ia ingin dunia takut kepadanya, karena dengan rasa takut akan melahirkan keengganan yang kuat terhadap perang dan pertempuran akan berakhir, dengan kekuatannya dia dapat melihat kedamaian.

Rasa takut akan penderitaan akan menghentikan peperangan dan dapat menstabilkan dunia menuju sebuah kedamaian. Rasa takut itu akan mampu melahirkan pengendalian diri, ketika setiap individu atau kelompok sudah dapat mengendalikan dirinya, kedamaian akan terwujud.

Dengan menciptakan rasa takut, tidak ada lagi homo homini lupus atau manusia menjadi serigala bagi sesamanya dan saling menyakiti lagi. Lalu apakah Nagato dan teman-temannya yang hendak membuat rasa takut kepada dunia itu dianggap sebuah tindakan kejahatan?

Agaknya penyebutan tokoh baik dan jahat terlalu relatif naif untuk disebutkan. Karena di dunia ini, persoalan tentang baik dan jahat selalu berhubungan erat dengan ketidakadilan. Jika dianalogikan, kelompok atau individu yang dianggap telah melakukan kejahatan yang banyak membasmi orang akan dibasmi kembali oleh kelompok atau individu yang dianggap sebagai tokoh kebaikan.

Lalu kita dapat mempertanyakannya, apa yang membedakan seseorang tersebut dapat dikategorikan baik dan jahat, jika keduanya melakukan pembasmian atau saling membasmi atau dalam hal ini menurut Nagato “tindakan balas dendam”.

Agaknya aneh ketika tokoh kebaikan telah membunuh tokoh kejahatan tidak pernah dikaitkan dengan dosa atau kejahatan. Namun, justru sebagai momentum tumbuh dan tegaknya keadilan dan kedamaian, dan bagaimana bisa keadilan dan kedamaian diidentikkan dengan kekalahan satu pihak?

Lalu skeptisisme Nagato perlu dicontoh oleh para pembaca, memang pada dasarnya manusia itu semuanya baik, tetapi manusia itu mulai bersikap egosentris dan serakah ketika ia berusaha memenuhi kebutuhan hidup individualnya. Sehingga, rasa sakit akan tercipta bagi individu atau kelompok yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya.

Namun, dari rasa sakit itu terkadang kita dapat berpikir bagaimana caranya agar rasa sakit itu tidak dirasakan oleh orang lain. Rasa sakit kita sebenarnya tidak perlu untuk dibalaskan hanya karena motif keadilan belaka, keadilan bukan semata hanya ingin orang lain merasakan hal yang sama. Sikap totalitarianisme semacam itu perlu kita tolak agar tercipta sebuah kedamaian.

Dengan merasakan rasa sakit dan berpikir tentang rasa sakit, kita dapat merasakan rasa sakit dan mengetahui apa yang disebut dengan rasa sakit tanpa harus membalaskan dendam. Kita hanya perlu untuk menjadi kuat agar tidak ada lagi narasi mereka yang kuat merampas hak yang lemah, seperti yang telah terjadi di dunia kita selama ini.

Penulis: Hery Prasetyo Laoli

Mahasiswa Filsafat Islam yang minat kajiannya adalah peperangan dan hanya bisa menerapkan amorfati serta gemar melihat anime khususnya “hentai”. Pernah berpikir ingin hidup abadi, namun tidak jadi. Dapat dihubungi lewat Instagram di @herynisme