Tidak dapat dipungkiri bahwa kepopuleran animanga tidak hanya memengaruhi negara asalnya, melainkan juga merambah ke masyarakat global. Hal ini yang menyebabkan, meski memiliki konsep visual sama dengan animasi lainnya, namun mereka menolak penyamaan itu, dan memilih menggunakan istilah “anime” terkhusus pada produk animasi asal negara Jepang saja.
Salah satu daya tarik dari berkembangnya budaya populer ini adalah keragaman genre atau jenis dan tema cerita yang disajikan. Anime dan manga menyajikan semuanya, dari yang normal, berat hingga yang nyeleneh pun ada.
Selain itu, dalam tiap cerita tidak hanya berdiri atas satu genre saja, ada beberapa genre serta konten pendukung yang menambah kesan menarik serta kompleksitas cerita, salah satunya adalah konten religius.
Jolyon Baraka Thomas dalam Drawing on Tradition: Manga, Anime, and Religion in Contemporary Japan (2012) menuliskan bahwa terkadang para penulis produk estetika menyisipkan kosakata, pencitraan serta konsep religius yang dijadikan sebagai kosmetik.
Tujuannya tentu untuk “merias” isi karya mereka agar menarik minat dan menghibur penonton, meskipun tidak sedikit hal itu menumbuhkan minat intelektual atas konten tersebut.
Beberapa dari konten itu malah terabaikan oleh penonton/pembaca yang hanyut dalam sajian alur di dalamnya, kecuali mereka merasakan pergeseran pandangan terhadap dunia yang mereka kenal akrab menjadi sedikit lebih berbeda, meskipun efek semacam ini hanya bersifat sekilas atau sementara.
Beberapa dari konten itu malah terabaikan oleh penonton/pembaca yang hanyut dalam sajian alur di dalamnya, kecuali mereka merasakan pergeseran pandangan terhadap dunia yang mereka kenal akrab menjadi sedikit lebih berbeda, meskipun efek semacam ini hanya bersifat sekilas atau sementara. Selain itu juga, para penikmat mungkin saja diperkenalkan oleh beberapa informasi sedemikian rupa yang ternyata menyesatkan.
Dalam hal ini, setidaknya ada beberapa judul yang menyajikan konten semacam ini, paling ketara kita lihat ada di Fire Force (Enen no Shoubutai) karya Atsushi Oukubo yang sarat akan konsep Kristiani yang dipadukan dengan istilah-istilah dalam Shinto dan sedikit ajaran Majushi.
Konten-konten seperti istilah Pengkhotbah/Evangelist, Gereja Matahari, Amaterasu adalah contohnya. Penggambaran sosok tokoh utama, Shinra juga disebut mirip dalam penggambaran Yesus dalam konsep kristiani.
Ada juga dalam sebuah film anime “Saint Young Men,” di mana penggambaran santai sekaligus nyeleneh tentang keseharian Yesus dan Buddha yang berbagi apartemen di Tachikawa (pinggiran barat Tokyo). Keduanya telah melakukan perjalanan ke tempat tersebut untuk liburan panjang dari surga setelah berhasil melewati pergantian abad.
Dalam ceritanya, mereka menunjukan “kenaifan ekstrim” terhadap situasi sosial sehari-hari, namun pada saat yang sama juga menikmati peradaban baru seperti orang-orang kebanyakan. Karakter Buddha yang pelit serta Yesus yang memiliki sindrom shopaholic juga bagian dari penggambaran konten religius yang santai.
Lalu ada Noragami yang sangat jelas sekali mengambil referensi dewa-dewa Shinto. Penggambaran dewa di sana lebih terkesan manusiawi, bedanya mereka memiliki kekuatan beragam yang jelas berbeda dengan manusia. Konsep dewa yang lahir dari harapan manusia juga sesuai dengan konsep yaoyorozu no kami yang berarti “delapan miliun dewa.”
Dalam ajaran Shinto, jumlah dewa yang disembah tidaklah terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini juga merujuk pada makna “kami” (Baca: dewa dalam bahasa Jepang) itu sendiri yang diartikan suatu dzat unggul atau bahkan ditakuti.
Pada akhirnya, suatu konsep cerita anime danmanga yang dibalut dengan konten religius, sesensitif apa pun itu hanya bersifat kosmetik. Beberapa pengarang memasukan itu agar cerita yang ia bawakan menjadi makin menarik dan terkesan kompleks. Sebagai penikmat pun, tidak ada salahnya mengkritisi hal itu sebagai pemicu minat intelektual kita.
Penulis: Muhamad Iqbalnur Fikri
Mahasiswa Studi Agama-agama di Universitas Islam Negeri yang terindikasi sebagai wibu. Seorang fans Chelsea, Milanisti, fans Barca sekaligus The Jak yang masih percaya bahwa Naruto adalah anime terbaik sepanjang masa ditengah gempuran nakama. Dapat disapa melalui Instagram @miq_8ball dan @miqanime, serta twitter @miq_ball10