Organisasi kampus merupakan wadah bagi mahasiswa mengembangkan minat bakat dan memperluas cakrawala pengetahuan. Namun demi keberlangsungan roda organisasi, perlu adanya kaderisasi.
Dengan hadirnya proses kaderisasi, organisasi telah mempersiapkan penerusnya di masa yang akan datang. dalam proses kaderisasi itu memerlukan pendekatan, pendekatan yang tentunya membangun ikatan emosional Tentu demi optimalisasi kader.
Anime Kimetsu no Yaiba (KnY), di episode 18-20 memperlihatkan satu tokoh iblis bulan bawah tingkat lima yaitu Rui, setelah dijadikan iblis oleh Muzan (Raja Iblis), Rui kehilangan kenangan saat masih menjadi manusia. Maka dari itu Rui membangun keluarga tiruan. Rui ialah karakter anime yang merambisi membangun ikatan keluarga iblis, membagi peran ayah, ibu, kakak, dan adik.
Dengan membangun ikatan keluarga dia berharap bisa merasakan kembali kenangannya. Namun anggota keluarga tiruannya satu per satu mati, ada yang dibunuh oleh pemburu iblis. Ada juga yang dibunuh oleh Rui sendiri apabila tak berperan dengan baik.
Bila ada anggota keluarga yang tak mematuhi perintahnya, akan dicabik-cabik, dikuras darahnya, dan ditaruh di bawah sinar matahari secara paksa. Beberapa merasa tertekan dan ingin kabur dari keluarga tiruan tersebut. Keluarga tiruan yang dibuat oleh Rui ialah keluarga yang palsu, penuh dengan kepura-puraan, alhasil ikatan tersebut tidaklah harmonis. Hal ini disebabkan ikatan yang dibangun sejak awal ialah ikatan yang didasari oleh rasa takut.
Saat pertarungannya melawan sang tokoh utama yaitu Tanjiro dan saudarinya Nezuko, Rui terkejut dan tersentuh melihat Nezuko melindungi Tanjiro tatkala Rui menyerangnya, dia merasa ada ikatan keluarga sejati. Hal tersebut membuat Rui ingin menjadikan Nezuko sebagai saudarinya, tapi sebelum mendapatkan yang diinginkan, naasnya kepala Rui terpenggal oleh pemburu iblis.
Kegagalan Rui dalam membangun ikatan keluarga didasari oleh pemikiran yang keliru, dengan menganggap bahwa kekuatan dan rasa takutlah yang dapat membangun ikatan sejati.
Dalam kontekstualisasi kampus, kita melihat banyak fenomena proses kaderisasi yang konyol. Seperti perpeloncoan, kekerasan fisik, dan perilaku dehumanisasi lainnya. Tentu pendekatan yang demikian tidak dibenarkan. Pendekatan yang penuh tendensi, intimidasi, demi mendapatkan relasi kuasa antara senior terhadap junior adalah bentuk kedzoliman.
Karakter Rui termanifestasikan dalam wujud senioritas kampus, di mana pendekatan rasa takut yang mendasari hubungan proses kaderisasi mahasiswa. Alih-alih membentuk kader yang berkualitas yang terjadi malah traumasitas. Seringkali pendekatan rasa takut malah membuat kader semakin menjauh.
Berbeda halnya dalam menghasilkan kader yang berkualitas sebagai penerus estafet organisasi. Di era modern, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi pada lingkungan, merupakan dua hal yang sangat dibutuhkan dalam berorganisasi, berpikir kritis mampu membuat seseorang menumbuhkan kreativitas dan kemampuan beradaptasi bisa menumbuhkan rasa percaya diri.
Artinya perlu ada perubahan, ikatan yang dibangun atas dasar takut oleh senior bukanlah ikatan sejati melainkan ikatan palsu yang penuh kepura-puraan. Perubahan yang saya maksud ialah menuju Dengan pendekatan lebih manusiawi.
menyandarkan pada kesadaran dan kepercayaan pada kader atau rekan kerja organisasi. Pendekatan yang demikian bisa menghasilkan lingkungan kerja organisasi lebih sehat dan jujur. Kader pun lebih percaya diri mengembangkan kapasitas dirinya tanpa merasa tertekan oleh rasa takut.
Penulis: Andi Rahmad Al Muhajir Baso Bella
Mahasiswa Akhir Universitas Negeri Makassar