Liz and Blue Bird dan Bagaimana Kita Belajar Bertumbuh dan Merelakan

Ketika kita menyayangi seseorang, tentu kita ingin seseorang itu selalu berada dekat dengan kita. Kita ingin menghabiskan waktu bersama dengan dia. Berbagi cerita dan kisah setiap harinya, berbagi hal-hal kecil dan simple di sela-sela padat dan sesaknya kehidupan. Momen-momen kecil dan sederhana bisa menjadi begitu berarti jika berada dekat dengan orang yang kita sayangi.

Tetapi, tentu hubungan kasih sayang tersebut tidak mungkin berjalan mulus tanpa ada kerikil dan semak tajam di jalannya. Di dalam sebuah hubungan sosial berbasis emosi antara manusia, akan selalu ada sebuah problem: kesalahpahaman, perbedaan pendapat, miskomunikasi, mementingkan ego sendiri, dan lain sebagainya. Begitu kompleksnya emosi dan hubungan sosial manusia, sampai-sampai yang dekat bisa menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat.

Menyinggung kasih sayang dan kompleksitas hubungan antara manusia, contoh kedua hal tersebut bisa dilihat lewat film Liz and the Blue Bird, sebuah film yang mengisahkan tentang kerenggangan hubungan antara dua anak manusia-Kasaki Nozomi dan Yoroizuka Mizore.

Sebenarnya Liz and the Blue Bird mengisahkan cerita yang biasa saja, tidak ada jurus-jurus terlarang atau sekumpulan manusia dengan kekuatan dewa. Hanya mengisahkan renggangnya persahabatan antara dua anak sekolahan. Tetapi tanpa kita sadari, kesederhanaannya itu ternyata begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Liz and the Blue Bird adalah judul dari sebuah dongeng fiksional sekaligus musical piece yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Liz yang bertemu dengan perempuan misterius yang mengisi hari-harinya dengan penuh tawa dan rasa senang, sampai akhirnya perempuan misterius itu pergi meninggalkannya. Ternyata perempuan misterius itu adalah burung biru yang pernah ia temui di hutan.

Cerita dalam cerita-Liz and the Blue Bird hadir sebagai simbolisasi hubungan persahabatan Nozomi dan Mizore. Antara Nozomi dan Mizore, keduanya seakan-akan berjalan di atas kaca yang rapuh. Mereka bertemu ketika masa SMP. Nozomi yang ramah dan ceria mengajak Mizore untuk bergabung dalam band orkestra sekolah.

Sejak saat itu mereka menjadi dekat. Namun, di masa SMA, persahabatan mereka merenggang ketika Nozomi tiba-tiba keluar meninggalkan band, meski pada akhirnya ia kembali masuk setelah jeda beberapa waktu. Nozomi merasa insecure kepada Mizore yang bertalenta dan penuh potensi dalam bermusik.

Sedangkan Mizore, Mizore yang pendiam, Mizore yang hanya terbuka kepada Nozomi yang merupakan sahabat sekaligus dunianya, tidak ingin kehilangan Nozomi. Meski terjadi kerenggangan dan ketidaknyamanan di hubungan persahabatan mereka, tetapi antara keduanya tidak ada yang ingin kehilangan satu sama lain.

Karena tidak ingin kehilangan satu sama lain, jadilah tumbuh tunas-tunas kata yang sulit terucap. Nozomi yang sulit jujur akan perasaannya tentang bagaimana Mizore begitu bersinar dan ia merasa tidak bisa sejajar dengannya, dan Mizore yang merindukan Nozomi dan sulit untuk mengutarakan betapa ia merasa sedih kepada Nozomi yang selalu pergi begitu saja seenaknya, dan betapa Mizore tidak ingin kehilangan Nozomi yang merupakan matahari kehidupannya.

Pedihnya situasi persahabatan mereka juga semakin begitu terasa ketika keadaan menakdirkan mereka untuk melakukan duet di musical piece “Liz and the Blue Bird” pada babak ketiga, dengan Nozomi memainkan flute, merepresentasikan Burung Biru, dan Mizore memainkan oboe, merepresentasikan Liz. Alunan suara musik mereka yang saling sahut menyahut seakan-akan mewakilkan perasaan mereka. A quiet desperation.

Menurut penulis, Liz and the Blue Bird sukses menarasikan betapa sedih dan sulitnya merelakan kepergian orang yang kita sayangi. Nyatanya antara Nozomi dan Mizore, keduanya memang sudah berada di dunia dan takdir yang berbeda.

Tetapi, meski dunia mereka berbeda, apakah mereka tidak bisa berjalan beriringan? Sebab pada akhirnya antara Nozomi dan Mizore, keduanya adalah remaja yang membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan memiliki keberanian untuk merelakan. Dan nyatanya benar demikian. Pada akhirnya antara Nozomi dan Mizore, keduanya memutuskan untuk berani merelakan dan menerima kenyataan, namun saling berusaha untuk berjalan bersama.

Nozomi merelakan Mizore pergi, Mizore merelakan Nozomi pergi. Nozomi memutuskan untuk mengutamakan akademiknya dan berusaha untuk tetap mendukung Mizore, dan Mizore yang juga memutuskan untuk terus bermain oboe. Antara Liz dan si Burung Biru, keduanya kini saling merelakan.

Pada akhirnya penulis hanya bisa berharap antara Nozomi dan Mizore, semesta mengizinkan keduanya untuk berjalan beriringan meski mereka sudah berada di dimensi kehidupan yang berbeda. Bagi penulis, kisah Nozomi dan Mizore ini adalah sebuah contoh yang indah; kita belajar untuk bertumbuh dan merelakan. Dalam menyayangi seseorang kita tidak bisa selamanya menahan mereka supaya terus dekat, tetapi juga berani merelakan ketika mereka memutuskan untuk pergi. Memang sulit, tetapi waktu akan selalu ada untuk mereka yang berlapang dada.

Penulis: Ramos M. Y. S

Ramos M. Y. S, akrab dipanggil Amos. Kebetulan menikmati anime dan menulis.