Melihat Sisi Gelap Industri Hiburan dalam Anime Perfect Blue

 

Perfect Blue, salah satu anime dari studio Madhouse yang disutradarai oleh Satoshi Kon. Anime yang dirilis pada tahun 1998 ini bercerita mengenai Mima, mantan member idol group CHAM! yang membanting setir karirnya ke dunia aktris. Dibantu oleh Rum sang manajer, perjalanan karirnya sebagai aktris pun dimulai.

Anime ini menyuguhkan bagaimana cara kerja dunia hari ini kepada seorang aktris, idol group, atau pun pelaku lainnya yang terkategorikan sebagai publik figur. Di mana mereka dituntut untuk terus menampilkan yang terbaik di setiap jepretan kameran, lalu realita dan ekspetasi selalu bertentangan, dan rasa kehilangan segala hal termasuk diri sendiri akibat tuntutan pekerjaan.

Sebagai idol group pada umumnya, Mima ditampilkan sebagai sosok yang muda, ceria, dan energik. Citranya tersebut yang telah dikonsumsi secara lama akan tertanam di khalayak umum, terkhusus penggemarnya. Ketika beralih sebagai aktris, penggemarnya tentu tidak akan mudah melihat Mima baru selain Mima yang mereka kenal: muda, ceria, dan energik.

 

Dalam dunia publik figur, menjaga penampilan agar terlihat baik adalah hal yang utama. Mengambil contoh pada idol group JKT48. Terdapat sebuah event handshake tempat para member akan bertemu penggemar dan bersalaman dengan durasi yang ditentukan melalui banyaknya pembelian CD Music. Tentu pengalaman itu akan sangat menyiksa, mereka diharuskan bersalaman dengan fans yang belum tentu mereka kenal, kemudian saling berbagi senyum bahagia, bukankah sangat melelahkan?.

Bahkan kita sendiri mengenalnya hanya sebagai member JKT48, tak lebih tak kurang. Kita tidak tahu bagaimana keseharian mereka yang sesungguhnya. Pun bila kita mengetahuinya, itu pun dijadikan sebagai barang jual, bagaimana tangisan dan segala hal yang mereka alami sampai titik puncak adalah proses yang membahagiakan.

Sebagai aktris muda, baik Mima maupun pihak agensinya menginginkan hasil yang yang memuaskan. Berangkat dari hal tersebut pihak agensi menginginkan Mima untuk mendapat adegan yang lebih banyak agar nama Mima cepat terangkat dan terkenal.

 

Tawaran tersebut disetujui oleh pihak pembuat film dengan ketentuan Mima melakukan adegan seksual. Memainkan adegan tersebut tentu membutuhkan kesiapan dan ruang dialog dengan aktris. Sayangnya hal tersebut tidak terlihat sehingga Mima harus melakukannya dengan membawa trauma dari adegan tersebut.

Apa yang dialami Mima dalam industri film juga terjadi di dunia sekarang. Padatnya jadwal syuting hingga adegan yang membahayakan harus dihadapi oleh tiap aktris. Dalam kasus padatnya jadwal syuting, jalur alternatif yang bisa digunakan ialah mengkonsumsi narkoba sebagai obat stimulus agar tetap bertenaga atau sebagai sarana rekreasi dari penatnya pekerjaan. Para pelaku industri hiburan lainnya pun rasa-rasanya tak luput dari hal tersebut.

Kejadian lainnya yang dialami Mima ialah munculnya teror beruntun, situs yang berisikan catatan harian Mima, hingga terbunuhnya orang-orang di sekitar Mima. Kesemuanya mempengaruhi ia secara fisik dan psikis.

 

Berjalannya waktu, Mima mulai melihat bayangan dirinya dan tenggelam dalam kebingungan terhadap apa yang dia lihat, antara realitas atau sebatas khayalan.

Hal-hal di atas nyatanya hanya satu dari sekian banyak duri yang harus dilalui oleh seorang publik figur. Dalam kasus Mima, asa yang dia gantung tepat di depan matanya hancur dengan realita yang dijalani. Luka yang terus tertanam pada dirinya berkembang secara pesat dan akhirnya menjadi bom waktu.

Mima memang Mima, ia hanya seorang yang fiktif dan hidup dalam dunia anime. Sayangnya segala macam peristiwa yang ia alami bukan hal yang fiktif, bukan berdasar pada khayalan, dan bukan hanya bualan, melainkan kejadian ini ada di tengah kehidupan kita.

 

Seperti apa yang tertera di judul, biru yang sempurna, pada akhirnya Perfect Blue berhasil melihat jauh ke dalam mengenai dunia publik figur atau mungkin kewarasan manusia. Anime ini layak menjadi peringatan untuk kita semua karena di dalamnya penuh dengan melankolia yang amat sangat “sempurna” bagi industri hiburan di seluruh dunia.

Penulis: Raihan Rizqullah

Raihan Rizqullah, pelajar yang suka main Zuma. Ahli di bidang pertukangan dan pengen melihara naga. Dapat dicari melalui instagram @rhnrizqullah